Jumat, 13 Juli 2012

Ini dia, perspektif saya tentang pontianak

Tepat hari selasa tanggal 10 juni untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki di kalimantan barat (sebetulnya ini juga pertama kalinya saya ke luar jawa). Orang-orang maupun media sering mengidentikan kalimantan sebagai sebuah pulau dengan hutan yang sangat lebat, bahkan saya sangat ingat waktu SD, guru saya mengatakan bahwa kalimantan adalah paru-paru dunia. Ok, mungkin di sisi kalimantan lain itu ada benarnya, namun ketika saya melihat pontianak kesan 'hutan' sama sekali tidak terlihat.

Di kalimantan saya turun dari pesawat tepat diarea kedatangan bandara supadio pontianak yang menarik perhatian, disana terpajang dengan jelas bahwa pontianak berada di 0 derajat garis lintang yang berarti bahwa ini adalah kota yang dilewati garis katulistiwa. Sebetulnya saya dan istri sudah mengetahui hal tersebut dan sudah diwanti-wanti oleh anggota keluarga lain bahwa pontianak adalah kota yang panas. Namun anehnya, saya tidak merasakan hal tersebut. Bagi saya pontianak tidak terlalu panas, sama panasnya dengan cirebon dan jakarta, dan saya sudah terbiasa dengan udara kedua kota tersebut.
Setelah turun dari bandara, karena berencana untuk jalan-jalan d pontianak saya kemudian menginap di hotel mercure. Konon katanya, ini merupakan salah satu hotel terbaik di pontianak, dan memang mercure merupakan hotel berbintang 4. Ok, singkat cerita saya dan istri saya menghabiskan masa bulan madu di mercure.
Tidak terlalu banyak aktifitas yang saya lakukan di pontianak, hanya pergi ke mall ayani mega mall, serta jalan2 disekitar hotel termasuk mengunjungi museum budaya kal-bar.
Ok, kembali ke topik yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini. Ada beberapa hal yang membuat saya terkesan dan ada beberapa hal yang membuat saya perlu dilakukan perubahan di Kal-bar.
Hal yang membuat saya terkesan adalah, pontianak bukanlah kota sepi, dia memiliki kehidupan yang sangat ramai layaknya seperti yang biasa saya lihat di kota-kota yang ada di jawa. Ada area dimana kepadatan lalu lintas terjadi, hal tersebut membuktikan bahwa kehidupan ekonomi berjalan baik di kota ini. Saya sering melihat antrian pelanggan yang sangat panjang di salah satu hypermarket di kota pontianak. Menurut hemat saya, itu adalah tanda bahwa daya beli masyarakat pontianak cukup baik.
Selanjutnya, ini adalah catatan untuk perbaikan kota Pontianak. Kota pontianak memerlulan taxi yang bagus. Saya perhatikan, taxi di kota pontianak kurang bagus. Tidak ada taxi yang menggunakan argo, mobil yang sudah usang dan lain sebagainya. Selain itu, moda transportasi lainnya tidak saya temukan di kota ini. Tidak ada bus kota, apalagi monorel. Bahkan angkot pun sangat terbatas dengan kondisi mobil yang benar-benar tidak terawat.
Kekurangan lainnya terletak di SPBU. Ini mungkin bisa jadi perbaikan bagi pertamina, tidak boleh membiarkan antrian terlalu panjang di SPBU. Distribusi BBM terlihat sangat buruk di provinsi ini.
Masih berbicara tentang kekurangan pontianak, eh bukan deng, maksud saya kekuranga kal bar secara umum. Kal bar masih sangat kurang dalam hal tujuan wisata. Tidak terlalu banyak tujuan wisata yang bisa di kunjungi di kalimantan barat. Yang paling sering disorot tentu saja singkawang dan itupun biasanya hanya ketika ada event seperti imlek. Perlu banyak pembenahan yang dilakukan pemprov, pemprov sebetulnya bisa mengembangkan tugu katulistiwa menjadi destinasi wisata yang menarik. Banyak orang yang ingin berada tepat di titik 0 garis lintang, nah jika pemprov kreatif mereka bisa mengolah hal tersebut. Saat ini, kondisi tugu katulistiwa terlihat menyedihkan. Selain itu pemprov pun bisa mengembangkan wisata sungai, sungai disini gede-gede dan hal tersebut sangat menarik bagi wisatawan dari Jawa.
Ok, kesimpulannya: jika saja pemerintan ingin membenahi kal-bar maka kalbar bisa menjadi destinasi wisata yang menarik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar